Thursday, May 12, 2005

BERSELANCAR DIATAS GELOMBANG TREND FASHION GLOBAL

Seperti halnya di beberapa negara lain, surfwear cukup sukses mendobrak kelesuan pasar garmen nasional. Siapa saja pemain topnya dan bagaimana strategi bisnis mereka?

Dilihat sekilas saja, gerai ini menarik perhatian. Suara musik yang mengentak-entak, tampilan interior yang berwarna-warni atraktif khas anak muda, dan para penjaga toko dengan dandanan funky. Begitulah wajah gerai-gerai surfwear. Saat ini, gerai semacam itu dengan mudah bisa kita temui di pusat-pusat belanja ternama di Jakarta, seperti Mal Pondok Indah, Mal Taman Anggrek, Mal Kelapa Gading, Mal Puri Indah, Citra Land dan Plaza Senayan.

Memang, meski terbilang baru, pemain di bisnis surfwear sudah lumayan banyak, mencapai puluhan. Namun, kebanyakan hadir di Bali, terutama di kawasan Kuta. Bali memang tempat awal kehadiran mereka. Kendati banyak, pemain besarnya bisa dihitung dengan jari, terutama tiga nama ini: Planet Surf, Point Break Indonesia dan City Surf. Mereka memiliki jaringan gerai luas yang tersebar di berbagai daerah. Tak hanya di Bali, tapi juga di berbagai kota besar di Indonesia.

Namun, jangan salah. Meski disebut surfwear, dagangan mereka bukanlah pakaian untuk surfing (selancar), melainkan lebih sebagai pakaian kasual. Melihat kemunculannya di kawasan pantai di Bali, bisa ditebak mulanya jenis pakaian ini memang ditujukan untuk komunitas pehobi berselancar. Belakangan, setelah unsur fashion makin kuat, makna surfwear melebar: sebagai pakaian kasual buat mereka yang ingin mengidentikkan diri dengan komunitas penggemar olah raga atau kehidupan pantai.

Simak saja modelnya yang unik, bahkan terkesan memberontak terhadap aturan baku. Ada baju dengan jahitan terbalik. Ada pakaian berbahan denim yang dikoyak dan dicat. Bahkan, ada ujung baju yang biasanya dijahit dalam lipatan, malah digunting. Harganya relatif mahal. Contohnya, T-Shirt dihargai Rp 100-250 ribu/potong, kaus kaki Rp 50 ribu, dan celana denim Rp 350-750 ribu. Tampaknya, pakaian kasual ini ditujukan untuk segmen menengah-atas.

Dilihat dari jumlah gerainya, pemain bisnis surfwear yang terbesar saat ini adalah Planet Surf. Kini Planet Surf memiliki 25 gerai yang berada di 14 kota, antara lain Jakarta, Bali, Makassar, Pontianak dan Medan. Pemain serius lainnya adalah Point Break Indonesia yang memiliki 22 gerai di 7 kota dan City Surf, dengan 12 gerai di 9 kota. City Surf yang dibawahkan Grup Kingkong sebenarnya memiliki dua gerai lagi dengan dagangan yang sama, tapi namanya berbeda: Volcom (di Surabaya dan Bali).

Andika Nusantara, Direktur Pengelola City Surf, mengungkapkan bahwa industri ini mengalami boom pada 2000-01. Saat itu banyak kalangan muda yang melihat surfwear sebagai alternatif pakaian yang mereka sukai. Tak mengherankan, waktu itu merek-merek surfwear menjadi tren. Pada 2003, pasarnya makin ramai. Saya ibaratkan seperti handphone di mana konsumen punya keinginan yang semakin detail,â€
 ujar mantan konsultan manajemen di Jakarta ini. Situasi pasar surfwear pun demikian. Modelnya semakin banyak dan beragam, sehingga pilihan konsumen semakin luas.

Sulit dipastikan seberapa besar pasarnya saat ini di Tanah Air. Namun, Andika punya perkiraan: secara keseluruhan mencapai Rp 100 miliar/tahun. Ia juga mengestimasi saat ini pangsa pasar Planet Surf dan Point Break masing-masing 30%, sedangkan City Surf sekitar 20%. Baru sisanya dipegang beberapa pemain kecil yang umumnya berada di Bali.

Namun, Deni Gunawan, Manajer Operasional Point Break, punya angka perkiraan berbeda. Mantan Manajer Penjualan Area Bank Mandiri ini memperkirakan pangsa pasar Point Break kurang dari 10%. Penyebabnya, pemain di industri ini sangat banyak. Sebaliknya, Bruno Tjahjono, pemilik Planet Surf, menilai penguasaan pasarnya lebih dari angka itu. Alasannya, Planet Surf memiliki gerai yang banyak dengan ukuran besar.
Itu jelas, ujar Bruno.

Aroma persaingan tercium dari ketiga pemimpin pasar ini. Ketika ditanya siapa pemain yang terbesar di sini, baik Bruno maupun Chintra Jones, pemilik Point Break, mengaku merekalah yang terbesar. Kami yang terbesar dan yang paling awal di sini,
ujar Chintra tegas. Adapun Andika, meskipun dari jumlah gerai lebih sedikit dari dua pemain tersebut, ia mengklaim produktivitasnya tinggi. Jika pada pemain lain satu outlet menghasilkan satu, untuk kami satu outlet menghasilkan dua, ujar pria yang bergabung dengan Grup Kingkong sejak 7 tahun lalu ini (1998).

Uniknya, tahun berdiri ketiga perusahaan ini berdekatan. Point Break tahun 1995, City Surf 1996 dan Planet Surf 1997. Dilihat dari perkembangan gerai, Planet Surf memang yang lebih cepat. Menurut Bruno, ia akan mengembangkan Planet Surf sampai 30 gerai hingga akhir tahun ini. Kuncinya, menurut pria kelahiran Singkawang, Kalimantan Barat, 44 tahun lalu ini, "
Saya tak pernah mengambil keuntungan dari perusahaan saya. Semua keuntungan itu untuk mengembangkan outlet".

Persaingan terasa karena banyaknya kesamaan di antara mereka dalam strategi dan operasional bisnis. Segmen yang mereka sasar adalah kalangan ABG atau anak muda yang mulai beranjak dewasa. Kisaran usianya, antara belasan tahun dan 20-an tahun.

Merek-merek yang mereka jual juga umumnya sama, antara lain Billabong, Volcom, Quiksilver, Rip Curl, Spyderbilt, Insight dan Roxy. Pakaian bertema selancar yang beredar di seluruh Indonesia diperkirakan sekitar 40 merek. Namun, tiga pemain besar ini masing-masing biasanya memegang belasan merek saja. Di gerai mereka, merek populer seperti Billabong, Volcom, Quiksilver, Spyderbilt dan Insight gampang ditemui.

Grup Kingkong yang didirikan I Ketut Kasih (47 tahun) merupakan pemegang lisensi resmi merek Volcom, Insight dan Spyderbilt. Uniknya, meski bersaing, para pemain juga menjalin kerja sama bisnis. Sebagai contoh, menurut Andika, distribusi Spyderbilt dan Insight diserahkan kepada Planet Surf, meskipun I Ketut Kasih tak punya kepemilikan di situ. Begitu juga merek Volcom, bisa ditemui di gerai Point Break. Nah, tak seperti Planet Surf dan City Surf, Point Break murni berbisnis sebagai peritel, alias tak memegang satu pun lisensi merek.

Kesamaan juga bisa dilihat pada konsep gerai para pemainnya, yakni one stop shopping. Di gerai mereka ini surfwear yang dijual hanya merek asing, serta berbagai perlengkapan dan pernik-pernik dengan merek serupa. Untuk pakaian, tiap merek memiliki varian yang cukup lengkap, seperti T-Shirt, kemeja, celana pendek, celana ¾, celana panjang, celana denim serta pakaian dalam. Adapun pernak-pernik yang mereka jual, contohnya tas, topi, dompet, kacamata dan gantungan kunci.

Penjaga toko di gerai-gerai surfwear juga menarik perhatian. Anak-anak muda itu berpenampilan atraktif. Meski tak berseragam, pakaian mereka bertema surfwear juga. Bahkan, rambut penjaga gerai Planet Surf bermodel unik dan dicat.

Olah raga selancar beserta skate board-nya mereka jadikan tema produk. Tak mengherankan, di semua gerai, banyak gambar atraksi pemain-pemain skateboard dan selancar kelas dunia. Di sini tampak sekali upaya mereka menjual fantasi dunia selancar dan skateboard yang bebas dan lepas serta mampu menampilkan atraksi-atraksi menawan. Mereka agaknya menyadari benar dunia seperti itu cocok dengan jiwa anak-anak muda yang menjadi target pasar mereka.

Boleh jadi, karena aturan dari para pemilik merek (prinsipal) di luar negeri, mereka menetapkan harga yang sama untuk produk yang sama. Misalnya, T-Shirt merek Billabong dengan model, tipe dan ukuran yang sama akan berharga sama di gerai Planet Surf, City Surf ataupun Point Break. Bukan berarti tak ada praktik persaingan harga. Pasalnya, tiap pemain bisa memberi diskon sekehendak hati. Di sinilah muncul peluang terjadinya perang diskon.

Namun, agaknya para pemain di bisnis ini tampak menahan diri, dan tak mau kelihatan bersaing keras. Bruno, contohnya, ingin di industri ini didirikan wadah semacam asosiasi. Tujuannya, agar ada kekompakan dan etika yang bisa disepakati. Jangan hantam kromo, ujarnya tegas.

Kendati begitu, bagaimana mereka mempromosikan dagangan juga menarik dicermati. Meskipun lumayan agresif, mereka sama-sama tak pernah beriklan di teve. Paling banter di radio. Alasan yang umumnya mereka kemukakan, biaya berpromosi di teve amat mahal. Karenanya, mereka merasa lebih pas beriklan di majalah anak muda, seperti Hai. Ada juga yang beriklan di billboard, seperti yang dilakukan Planet Surf di jalur tol Jakarta-Cikampek. Lainnya, membuat brosur.

Mereka juga berpromosi di arena below the line. Caranya, dengan menggelar berbagai acara. Contohnya, lomba selancar dan skateboard yang rutin dilakukan City Surf. Dibanding yang lain, kami paling concern, ujar Andika. Contohnya, dalam setahun City Surf tiga kali menyelenggarakan ajang kejuaraan skateboard yang bertajuk CS Open. CS juga sering membuat lomba selancar untuk anak usia di bawah 15 tahun. Selain itu, beberapa tahun terakhir CS menjadi sponsor grup band asal Bandung, Rocket Rockers. Dalam tiap kejuaraan skateboard yang diadakan City Surf, grup band ini tampil. Jadi, acaranya lebih hidup, ujar Andika.

Point Break dan Planet Surf seperti tak mau kalah. Pada 2003, Point Break membuat ajang perebutan Miss Point Break, fashion show dan lomba skateboard. Sementara Planet Surf, seperti diungkapkan Bruno, tahun lalu membuat berbagai event semacam lomba skateboard, lomba pede (nama ajangnya Get The Planet Role), serta lomba tari kejang di berbagai kota seperti di Manado, Makassar, Pekanbaru, Bandung dan Surabaya. Planet Surf saat ini juga mensponsori grup band di Bandung, sebagai sarana promosi produk-produknya. Bruno berencana mengadakan Surf Party -- pesta bagi anak muda dengan memakai pakaian, perlengkapan dan aksesori merek surfwear yang ada di Planet Surf -- tahun ini.

Jika mereka terkesan tak ingin kelihatan terlalu bersaing, harap maklum. Sebab, ketiga pemilik bisnis surfwear ini kenal baik satu sama lain. Awalnya, mereka memiliki hubungan bisnis dan pertemanan yang cukup dekat. Bruno mengungkapkan, sebelum terjun ke bisnis surfwear, ia punya hubungan bisnis dengan I Ketut Kasih, pemilik City Surf. Ia mengaku pernah menjalankan usaha toll manufacturing baju kaus merek Kingkong milik I Ketut Kasih. Adapun Bruno dan Chintra Jones, pemilik Point Break, sebelumnya juga menjalin hubungan persahabatan cukup erat.

Ketatnya persaingan serta perkembangan bisnis mereka menyiratkan makin menjanjikannya bisnis ini. Hal ini diakui oleh ketiga pemain. Prospeknya bagus sekali, ujar Bruno bersemangat. Ia mengungkapkan, di luar negeri seperti di Australia, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, surfwear menjadi tren. Tampaknya orang Indonesia makin menyadari tren ini, katanya. Selain itu, Bruno dan Deni juga mengaku, penjualan perusahaan semakin meningkat. Sayang, keduanya menolak menyebut angka detailnya.

Andika lebih terbuka soal angka. Ia melihat positifnya masa depan industri ini tampak dari kinerja City Surf pada 2004. Pertumbuhan kami mencapai 42% pada 2004 dibanding tahun 2003, katanya mengklaim. Ia membandingkan kontrasnya bisnis ini dengan industri garmen secara keseluruhan yang sedang lesu.

Andika mengungkapkan keunikan bisnis ini. Pemegang lisensi merek-merek surfwear ternyata hanya ada di sedikit negara. Contohnya, negara-negara Eropa, AS, Australia, Jepang dan Indonesia. Karena pemilik merek sangat memperhatikan apakah di negara tersebut punya ombak atau pantai yang cocok untuk surfing atau tidak, ujarnya. Dengan kondisi ini, maka pasar global pun terbuka.

Dibandingkan dengan dua rivalnya, City Surf yang akan menambah 6 gerai baru tahun ini memiliki kelebihan, yakni punya pabrik untuk memproduksi beberapa produk surfwear. Di pabrik ini, City Surf tak hanya memenuhi kebutuhan sendiri, tapi juga kebutuhan negara lain (toll manufacturing). Sekadar diketahui, sebagian besar produk yang mereka pasarkan saat ini diproduksi di Cina dan India, juga dengan pola toll manufacturing.

Ada perkembangan menarik lainnya dari sejumlah pemain. Tahun ini City Surf dan Planet Surf akan meluncurkan gerai dengan tema sama tapi untuk wanita. City Surf akan meluncurkan City Girls di Mal Kelapa Gading, Mei ini. Sementara Planet Surf akan membuka gerai Surfing Girls di Senayan City. Apakah Point Break ketinggalan? Tidak juga. Malah, sejak 2002 Point Break sudah memiliki gerai dengan tema dan target seperti itu. Namanya, I.D. Girls -- saat ini ada 8 gerai.

Yang jelas, meskipun pasar garmen nasional secara keseluruhan melesu, para pebisnis surfwear terus melaju, seperti ombak di pantai-pantai Pulau Dewata.

*Oleh : Yuyun Manopol dan Iga Silawaty

 

#surfindustries #citysurf #planetsurf #pointbreak #citygirls #surfinggirls #idgirls #australia #amerikaserikat #surfwear #volcom #ripcurl #billabong #quiksilver #roxy #rusty #insight51 #spyderbilt #mambo #kutalines

 

Thanks,

 

 

Eka Rusty

No comments:

Post a Comment

GLOBE Skateboard 7.825in x 31.75in Goodstock Navy Deck

GLOBE Skateboard 7.825in x 31.75in Goodstock Navy Deck Rp 495.000,- The Goodstock skateboard deck is a classic Resin-7 hard rock maple c...